Jakarta, 31 Agustus 2026 – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melakukan rotasi dan mutasi terhadap sejumlah Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen) di lingkungan Polri. Pergantian tersebut mencakup sejumlah jabatan strategis di tingkat Mabes Polri hingga pimpinan kepolisian daerah. Salah satu posisi yang mengalami perubahan adalah Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops), yang memiliki peran penting dalam mengoordinasikan pelaksanaan operasi kepolisian. Selain itu, dua jabatan Kapolda juga mengalami pergantian, yakni Kapolda Sulawesi Utara dan Kapolda Papua Barat Daya. Mutasi tersebut tertuang dalam tiga Surat Telegram Kapolri yang diterbitkan pada 30 Agustus 2026.
Dalam rotasi tersebut, Irjen Pol. Roycke Harry Langie dipercaya mengemban jabatan sebagai Astamaops Kapolri. Roycke sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Utara dan kini berpindah ke lingkungan Mabes Polri untuk menjalankan tugas baru tersebut. Posisi Astamaops sebelumnya dijabat oleh Komjen Pol. Muhammad Fadil Imran, yang dimutasikan sebagai Pati Stamaops Polri dalam rangka memasuki masa pensiun. Pergantian ini membuat posisi strategis di bidang operasi kepolisian kembali mendapatkan pejabat baru dengan pengalaman memimpin satuan kewilayahan. Roycke nantinya akan menghadapi tanggung jawab dalam membantu memastikan berbagai operasi kepolisian dapat berjalan sesuai kebijakan dan kebutuhan organisasi.
Perubahan juga terjadi pada jabatan Asisten Sumber Daya Manusia atau As SDM Kapolri. Posisi tersebut kini dipercayakan kepada Irjen Pol. Jawari yang menggantikan Irjen Pol. Anwar. Jawari sebelumnya memiliki pengalaman dalam berbagai penugasan di lingkungan Polri dan kini mendapatkan tanggung jawab yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumber daya manusia kepolisian. Bidang tersebut mencakup pembinaan personel, pengembangan karier, pendidikan, serta berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kebutuhan anggota Polri. Pergantian pejabat pada posisi tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan personel agar semakin sesuai dengan kebutuhan organisasi dan tantangan tugas kepolisian.
Selain Astamaops dan As SDM, jabatan Koordinator Staf Ahli Kapolri atau Koorsahli juga mengalami pergantian. Irjen Pol. Ruslan Ependi dipercaya menduduki jabatan tersebut menggantikan Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak. Koorsahli memiliki fungsi penting dalam memberikan masukan dan telaah strategis kepada Kapolri terkait berbagai persoalan yang membutuhkan pertimbangan dari sisi kebijakan. Pergantian pejabat pada posisi tersebut menjadi bagian dari penyegaran organisasi di tingkat Mabes Polri. Herry Rudolf Nahak selanjutnya dimutasikan sebagai Pati Sahli Kapolri dalam rangka memasuki masa pensiun.
Rotasi berikutnya terjadi di tingkat kepolisian daerah, salah satunya pada Polda Sulawesi Utara. Setelah Roycke Harry Langie ditarik untuk menduduki posisi Astamaops, jabatan Kapolda Sulawesi Utara selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol. Yudo Hermanto. Sebelumnya, Yudo menjabat sebagai Karopaminal Divpropam Polri dan kini mendapat amanah memimpin kepolisian di wilayah Sulawesi Utara. Perpindahan tersebut membuat Yudo harus segera menyesuaikan diri dengan karakteristik keamanan dan kondisi sosial masyarakat di wilayah tugas barunya. Sebagai Kapolda, ia memiliki tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban sekaligus memastikan pelayanan kepolisian berjalan secara optimal.
Pergantian juga dilakukan pada jabatan Kapolda Papua Barat Daya. Brigjen Pol. Hengki Haryadi yang sebelumnya menjabat Wakapolda Riau ditunjuk untuk memimpin Polda Papua Barat Daya. Jabatan tersebut memiliki tantangan tersendiri karena wilayah Papua Barat Daya memiliki kondisi geografis yang luas serta karakteristik masyarakat yang beragam. Kepolisian perlu menjalankan pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal agar tugas keamanan dan pelayanan masyarakat dapat berjalan secara efektif. Hengki juga akan menghadapi kebutuhan untuk memperkuat koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, serta berbagai unsur masyarakat dalam menjaga stabilitas wilayah.
Setelah Hengki Haryadi berpindah menjadi Kapolda Papua Barat Daya, posisi Wakapolda Riau kemudian diisi oleh Brigjen Pol. Simson Zet Ringu. Simson sebelumnya menjabat sebagai Wakapolda Gorontalo dan kini mendapatkan tugas baru di wilayah Riau. Perpindahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian rotasi yang saling berkaitan antara satu jabatan dengan jabatan lainnya. Sebagai Wakapolda, Simson akan membantu Kapolda Riau dalam menjalankan tugas operasional maupun pembinaan organisasi di tingkat kewilayahan. Pengalaman yang dimiliki dari penugasan sebelumnya diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas barunya.
Sementara itu, posisi Wakapolda Gorontalo dipercayakan kepada Kombes Pol. Dedy Suhartono yang sebelumnya bertugas di Korlantas Polri. Perubahan tersebut membuat sejumlah posisi pimpinan kepolisian daerah mengalami penyegaran secara bersamaan. Wakapolda memiliki peran penting dalam membantu Kapolda mengoordinasikan berbagai bidang, termasuk pembinaan personel, operasional, dan pelayanan masyarakat. Dedy akan menghadapi tugas baru dengan karakteristik wilayah yang berbeda dari penugasan sebelumnya di lingkungan Korlantas. Penempatan tersebut juga menunjukkan adanya pengembangan karier personel melalui perpindahan tugas di berbagai bidang kepolisian.
Selain sejumlah pejabat tersebut, rotasi juga menyentuh jabatan Kepala Pelayanan Markas atau Kayanma Polri. Posisi tersebut kini dijabat oleh Kombes Pol. Ian Rizkian Milyardin yang menggantikan Kombes Pol. Yudi Arkara Oktobera. Jabatan Kayanma memiliki tugas yang berkaitan dengan dukungan pelayanan dan kebutuhan markas dalam menunjang kegiatan organisasi Polri. Meskipun tidak berada pada garis depan operasional kepolisian, fungsi tersebut tetap penting karena berkaitan dengan kelancaran berbagai aktivitas di lingkungan Mabes Polri. Pergantian pejabat di posisi tersebut menjadi bagian dari keseluruhan penyegaran organisasi yang dilakukan Kapolri.
Secara keseluruhan, mutasi tersebut mencakup ratusan personel yang mendapatkan promosi maupun penempatan baru. Dari keseluruhan personel yang dimutasi, sebanyak 344 personel mendapatkan promosi atau penempatan pada jabatan baru. Selain promosi, terdapat pula personel yang menyelesaikan pendidikan, berangkat mengikuti pendidikan, hingga memasuki masa pensiun. Polri menyebut perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi yang berlangsung secara berkala. Mutasi dan rotasi dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan organisasi sekaligus memberikan ruang bagi personel untuk mengembangkan pengalaman dan karier di lingkungan kepolisian.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menjelaskan bahwa mutasi dan rotasi merupakan bagian dari proses pembinaan organisasi serta karier personel Polri. Menurutnya, penempatan pejabat pada posisi baru dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi, kompetensi, dan tantangan tugas yang dihadapi. Setiap personel yang mendapatkan amanah baru diharapkan dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan tanggung jawabnya. Mereka juga diminta melanjutkan berbagai program yang sudah berjalan sekaligus melakukan peningkatan terhadap kualitas pelaksanaan tugas. Dengan demikian, rotasi tidak hanya dipandang sebagai pergantian jabatan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan kinerja organisasi.
Pergantian pejabat di tingkat Mabes maupun Polda juga diharapkan dapat memberikan penyegaran terhadap pelaksanaan tugas kepolisian. Setiap wilayah memiliki persoalan keamanan yang berbeda sehingga membutuhkan kepemimpinan yang mampu memahami karakteristik daerah masing-masing. Kapolda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga situasi keamanan sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan yang cepat dan profesional. Sementara itu, pejabat utama Mabes Polri berperan dalam menyusun dan mengoordinasikan kebijakan yang berdampak pada pelaksanaan tugas kepolisian secara nasional. Koordinasi antara pusat dan daerah menjadi penting agar berbagai kebijakan dapat diterapkan secara konsisten tanpa mengabaikan kebutuhan lokal.
Posisi Astamaops yang kini diisi Roycke Harry Langie menjadi salah satu perubahan yang cukup mendapat perhatian dalam rotasi kali ini. Bidang operasi merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan tugas Polri karena berkaitan dengan perencanaan dan pengendalian berbagai operasi kepolisian. Tantangan keamanan yang dihadapi Polri semakin beragam, mulai dari tindak kriminal, gangguan ketertiban masyarakat, hingga pengamanan berbagai kegiatan berskala besar. Karena itu, pejabat yang menduduki posisi tersebut membutuhkan pengalaman operasional dan kemampuan koordinasi yang kuat. Pengalaman Roycke sebagai Kapolda Sulawesi Utara menjadi salah satu bekal yang dapat digunakan dalam menjalankan tanggung jawab barunya di tingkat Mabes Polri.
Sementara itu, pergantian dua Kapolda juga menjadi perhatian karena kedua wilayah memiliki karakteristik keamanan yang berbeda. Sulawesi Utara memiliki kawasan perkotaan, wilayah kepulauan, serta sejumlah kawasan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata. Papua Barat Daya memiliki kondisi geografis yang lebih kompleks dengan wilayah kepulauan dan kawasan yang membutuhkan pendekatan keamanan sekaligus pelayanan masyarakat secara intensif. Pergantian pimpinan di kedua wilayah tersebut diharapkan tidak mengganggu kesinambungan program yang telah berjalan sebelumnya. Para pejabat baru perlu segera melakukan konsolidasi internal dan membangun komunikasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat setempat.
Mutasi dan rotasi juga menjadi bagian dari mekanisme organisasi untuk memberikan pengalaman yang lebih luas kepada para perwira. Perpindahan dari satu jabatan ke jabatan lain dapat memperkaya pengalaman personel dalam menghadapi berbagai karakteristik tugas. Seorang perwira yang sebelumnya bertugas di bidang pembinaan dapat memperoleh pengalaman di bidang operasional, begitu pula sebaliknya. Pengalaman lintas bidang tersebut dapat menjadi modal dalam membangun kepemimpinan yang lebih komprehensif di masa mendatang. Namun, setiap pejabat baru tetap perlu memastikan bahwa proses adaptasi tidak mengganggu pelayanan kepolisian yang sedang berjalan.
Dengan adanya rotasi tersebut, seluruh pejabat yang mendapatkan tugas baru diharapkan segera menjalankan tanggung jawab sesuai posisi masing-masing. Kapolri menekankan pentingnya kesinambungan program agar pergantian pejabat tidak menyebabkan pelayanan maupun kegiatan operasional mengalami hambatan. Para pejabat baru juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas kinerja dan memberikan respons terhadap persoalan yang berkembang di wilayah maupun bidang tugasnya. Masyarakat menjadi salah satu pihak yang akan merasakan langsung dampak dari kinerja para pejabat tersebut melalui pelayanan keamanan dan penegakan hukum. Karena itu, setiap jabatan baru membawa tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Rotasi Pati dan Pamen yang dilakukan Kapolri pada akhirnya mencakup sejumlah posisi strategis, mulai dari Astamaops, As SDM, Koorsahli, Kayanma, hingga dua jabatan Kapolda. Irjen Pol. Roycke Harry Langie kini dipercaya sebagai Astamaops, Irjen Pol. Jawari sebagai As SDM, dan Irjen Pol. Ruslan Ependi sebagai Koorsahli Kapolri. Sementara itu, Brigjen Pol. Yudo Hermanto ditunjuk sebagai Kapolda Sulawesi Utara dan Brigjen Pol. Hengki Haryadi menjadi Kapolda Papua Barat Daya. Rangkaian pergantian tersebut merupakan bagian dari pembinaan organisasi dan karier personel sekaligus upaya menyesuaikan kebutuhan Polri dengan tantangan tugas yang terus berkembang.






