Jakarta, 7 September 2026 – Alunan Suling Tulang Jiahu yang memainkan lagu daerah Indonesia “Sing Sing So” menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian kegiatan pertukaran budaya China dan Indonesia yang berlangsung di Jakarta. Alat musik kuno berusia lebih dari 8.000 tahun tersebut dimainkan dalam kegiatan budaya pop-up di Mal Sarinah, Jakarta Pusat, yang menarik perhatian masyarakat untuk berhenti, menyaksikan pertunjukan, hingga mencoba sejumlah pengalaman budaya secara langsung. Suara sederhana dan jernih dari suling tulang dipadukan dengan dentuman gendang pinggang berbahan tembikar sehingga menghadirkan perpaduan musikal yang unik. Ketika melodi “Sing Sing So” mulai dimainkan, sejumlah pengunjung yang mengenali lagu tersebut ikut bersenandung mengikuti iramanya. Pertunjukan itu memperlihatkan bagaimana alat musik yang berasal dari peradaban kuno China dapat digunakan untuk membawakan karya yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Musik kemudian menjadi medium yang mempertemukan dua tradisi budaya tanpa terhalang perbedaan bahasa maupun latar sejarah.
Kegiatan di Sarinah tersebut menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo di Indonesia. Rangkaian acara berlangsung pada 1 hingga 3 September 2026 dengan kegiatan yang diselenggarakan di Jakarta dan Bandung. Program tersebut mengangkat tema yang menggambarkan hubungan antara aliran Sungai Heluo dan persahabatan hingga kawasan Kepulauan Nanyang. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Indonesia diperkenalkan lebih dekat dengan kebudayaan Heluo yang berkembang di Henan serta berbagai potensi pariwisata budaya dari wilayah tersebut. Penyelenggara tidak hanya menampilkan benda bersejarah, tetapi juga menghadirkan pertunjukan dan aktivitas interaktif agar pengunjung dapat memperoleh pengalaman langsung. Pendekatan tersebut membuat pertukaran budaya berlangsung melalui interaksi masyarakat dan bukan sekadar melalui penyampaian informasi.
Suling Tulang Jiahu menjadi salah satu benda budaya yang paling banyak menarik perhatian dalam rangkaian kegiatan tersebut. Instrumen itu berasal dari Situs Jiahu di wilayah Wuyang, Kota Luohe, Provinsi Henan, China. Situs Jiahu dikenal sebagai salah satu kawasan penting untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa Neolitikum dan perkembangan awal musik di China. Suling tulang yang ditemukan di kawasan tersebut dibuat dari tulang sayap burung keluarga bangau dengan sejumlah lubang nada yang disusun sepanjang badan instrumen. Temuan-temuan Jiahu menunjukkan bahwa masyarakat pada ribuan tahun lalu telah mempunyai kemampuan membuat instrumen dengan pengaturan nada yang cukup kompleks. Karena nilai sejarah tersebut, Suling Tulang Jiahu kerap dipandang sebagai salah satu artefak penting dalam perjalanan perkembangan instrumen tiup China.
Salah satu Suling Tulang Jiahu yang diperkenalkan dalam rangkaian promosi budaya tersebut memiliki tujuh lubang nada dan panjang sekitar 23 sentimeter. Struktur instrumen memungkinkan berbagai nada dimainkan sehingga menunjukkan tingkat pengetahuan musikal yang telah berkembang pada masyarakat Jiahu ribuan tahun lalu. Para peneliti menemukan lebih dari 30 suling tulang dengan jumlah lubang berbeda di Situs Jiahu dalam rangkaian penggalian yang dilakukan selama beberapa tahun. Mayoritas instrumen memiliki tujuh lubang, meskipun terdapat pula temuan dengan jumlah lubang lebih sedikit maupun lebih banyak. Proses pembuatannya menunjukkan adanya perhitungan terhadap jarak antarlubang dan pengujian terhadap nada yang dihasilkan. Temuan tersebut membuat Jiahu memiliki posisi penting dalam kajian mengenai sejarah musik dan teknologi pembuatan alat musik pada masa awal peradaban manusia.
Kehadiran Suling Tulang Jiahu di Indonesia juga menarik karena masyarakat Nusantara mempunyai tradisi panjang menggunakan suling sebagai bagian dari kehidupan budaya. Berbeda dengan Jiahu yang menggunakan tulang burung, berbagai suling tradisional Indonesia umumnya dibuat menggunakan bambu atau material lokal lainnya. Bentuk, sistem nada, teknik permainan, dan fungsi sosialnya juga berkembang sesuai dengan karakter budaya masing-masing daerah. Meski demikian, keberadaan instrumen tiup dalam dua kebudayaan yang terpisah ribuan kilometer menunjukkan bagaimana manusia menggunakan suara dan musik sebagai sarana ekspresi sejak masa yang sangat panjang. Kesamaan tersebut menjadi titik temu yang dapat digunakan untuk memperkenalkan sejarah masing-masing kebudayaan. Pertunjukan “Sing Sing So” menggunakan Suling Jiahu kemudian memberikan contoh konkret bagaimana warisan musikal kuno dapat berinteraksi dengan lagu tradisional Indonesia.
Pertunjukan di Sarinah tidak hanya menghadirkan musik karena berbagai unsur kebudayaan Henan turut diperkenalkan kepada pengunjung. Demonstrasi kungfu Shaolin dan taijiquan menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan yang memperlihatkan karakter berbeda dari seni bela diri China. Pengunjung bahkan memperoleh kesempatan mencoba sejumlah gerakan dengan bimbingan para praktisi yang hadir. Area lain menampilkan berbagai bentuk warisan budaya takbenda dari kawasan Heluo, termasuk kerajinan Luoyang Sancai, seni gunting kertas Mengjin, produk berbasis peoni, hingga pengenalan praktik tradisional lainnya. Sejumlah produk kreatif yang menggabungkan simbol budaya tradisional dengan desain kontemporer juga ditampilkan. Keragaman tersebut memberikan gambaran bahwa promosi budaya tidak hanya berfokus pada peninggalan masa lalu, tetapi juga bagaimana warisan tersebut terus dikembangkan dalam kehidupan modern.
Interaksi langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan karena masyarakat Indonesia dapat mencoba berbagai aktivitas yang sebelumnya mungkin hanya mereka kenal melalui media. Sejumlah pengunjung belajar gerakan taijiquan, mencoba memainkan replika Suling Tulang Jiahu, hingga mengikuti proses pembuatan kerajinan tradisional. Pengalaman tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami sebuah kebudayaan melalui aktivitas yang lebih personal. Sebaliknya, penggunaan lagu Indonesia dalam pertunjukan Suling Jiahu membuat budaya yang diperkenalkan terasa lebih dekat bagi pengunjung lokal. Ketika instrumen kuno memainkan melodi yang telah dikenal, jarak budaya antara penampil dan penonton menjadi lebih kecil. Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa pertukaran budaya dapat berlangsung dua arah dengan masing-masing pihak menemukan unsur yang dapat dipahami bersama.
Musik selama ini memang menjadi salah satu medium yang cukup efektif dalam membangun hubungan budaya Indonesia dan China. Sejumlah lagu dari kedua negara telah dikenal dan dibawakan dalam bahasa maupun panggung budaya yang berbeda. Lagu Mandarin “Rembulan Mewakili Hatiku”, misalnya, mempunyai versi yang dikenal oleh pendengar Indonesia. Sebaliknya, “Bengawan Solo” sebagai salah satu karya musik Indonesia yang paling dikenal secara internasional pernah dibawakan dalam berbagai kesempatan di China, termasuk panggung perayaan Tahun Baru Imlek. Melodi “Bunga Melati” juga mempunyai kedekatan tersendiri dalam tradisi musikal yang dikenal masyarakat kedua negara. Pertemuan melalui musik menunjukkan bahwa sebuah karya dapat memperoleh kehidupan baru ketika diperkenalkan kepada masyarakat dengan latar budaya berbeda.
Pemilihan Sarinah sebagai salah satu tempat berlangsungnya kegiatan turut memberikan konteks tersendiri bagi pertemuan kebudayaan tersebut. Kawasan itu telah lama menjadi ruang yang memperkenalkan berbagai produk, kerajinan, dan ekspresi budaya Indonesia kepada masyarakat. Kehadiran pameran budaya Heluo di lokasi tersebut menciptakan ruang dialog antara kebudayaan Indonesia dengan warisan dari Henan. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat membandingkan berbagai unsur yang mempunyai kemiripan maupun perbedaan dengan tradisi Nusantara. Aktivitas kemudian berlanjut dalam rangkaian acara di Jakarta dan Bandung selama tiga hari. Melalui format pameran, pertunjukan, dan pengalaman interaktif, masyarakat memperoleh kesempatan mengenal kebudayaan dari negara lain tanpa harus melakukan perjalanan ke tempat asalnya.
Alunan “Sing Sing So” melalui Suling Tulang Jiahu pada akhirnya menjadi simbol sederhana mengenai kemampuan musik melintasi batas ruang dan waktu. Instrumen yang berakar pada kehidupan manusia lebih dari delapan milenium lalu dapat memainkan lagu Indonesia dan tetap menghasilkan pengalaman musikal yang dapat dinikmati masyarakat masa kini. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah tidak harus berhenti sebagai benda yang hanya dipelajari di museum, tetapi dapat menjadi sarana membangun komunikasi antarmasyarakat. Indonesia dan China mempunyai tradisi musik yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menyimpan jejak panjang penggunaan instrumen tiup dalam kehidupan budaya. Pertukaran semacam ini membuka kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan masing-masing masyarakat sekaligus menemukan titik persamaan di antara keduanya. Suling Tulang Jiahu pun menjadi jembatan yang menghubungkan warisan peradaban Henan dengan melodi Nusantara melalui bahasa universal bernama musik.






